Jualan Susah Laku Karena Perang Harga? Begini Cara Mengatasinya!

Hai, ketemu lagi kita di sini.. 

Hari ini aku mau cerita nih tentang bisnis yang saling banting-bantingan harga. Faktanya gengs! Di dunia yang sangat riweuhh ini dengan berbagai perselisahan selalu terjadi setiap harinya. Tanpa kita sadari kalo ternyata riweuh itu masih hal biasa gengs.

Kalau denger-denger dari bisikan tetangga nih ya. Konflik bersenjata selalu terjadi setiap hari di berbagai belahan dunia. Dalam 1 hari ini banyak hal yang terjadi di dunia tanpa kamu sadari loh.

Duh, kalo denger berita soal perang serem deh bawaannya. Gak cuma tentang perang antar negara aja nih ada perang antar saudara yang di Indonesia ini masih sering banget terjadi. Perang batin juga ada gengs, mungkin kalian yang lagi baca ini juga lagi perang batin sama diri sendiri…

Yuk, rileks dulu *Tarik nafas dalam-dalam* hmmm *keluarkan pelan-pelan* hufttt... udah enakan? Mari lanjut ke perang yang lain. 

Ada juga perang harga, hal ini gak asing nih pasti untuk kamu yang sedang berbisnis iya kan?

Bisnis itu paling tidak bisa dihindari dari kata persaingan. Kalo gak ada pesaingnya bukan bisnis dong namanya. Persaingan dengan kompetitor merupakan hal yang serius banget untuk pebisnis.

Persaingan harga akan selalu terjadi antara kamu dan si dia, maksudnya kompetitormu. Lah terus gimana cara mengatasinya? Strateginya kaya gimana biar jauh-jauh dari kata perang?

Jadi gini gengs, pertama-tama kita harus cari tahu dulu kenapa bisa terjadi perang harga?

Perang harga kan gak mungkin tiba-tiba lahir ke dunia tanpa alasan ya kan. Awalnya perang harga ini hadir di dunia karena munculnya banyak penjual dibandingkan dengan pembeli.

Misal, penjualnya ada 100 orang eh, pembelinya cuma ada 10 orang, ya pasti penjual bakal perang mati-matian buat dapetin simpati dari 10 pembeli ini dong.

Cara narik simpatinya nih dengan harga-harga yang mengiurkan mata emak-emak sekampung yang murahnya gak ketulungan deh.

Kalo di warung Bu Cece harga beras Rp. 10.000, terus di warungnya Bu Odah harga berasnya Rp. 7.000, atuh emak-emak kalo begini pasti berbondong-bondong otw ke warungnya Bu Odah buat dapet beras dengan harga yang murmer (murah meriah).

Kalau yang lebih parahnya lagi, produk KW aka Replika yang jauh mendominasi pasar. Sampai-sampai kadang pembeli ketipu sama penjual yang bilang barangnya Ori padahal KW super.

Aku juga kadang bingung mana barang Ori mana yang KW gengs. Kebayang dong gimana kondisi pasar bisnis yang gak karuan ini?

Aku punya sedikit tips rahasia nih, ini aku cuma sharing ke kamu aja loh jangan kasih tau yang lain ya 😉

GIMANA LANGKAH STRATEGINYA?

Aku membedakan 2 jenis pola yang sering dilakukan oleh pebisnis pada umumnya.

Pola 1 adalah pola yang berfokus pada produk atau bisa dikenal sebagai Product Oriented.

Pola 2 adalah pola yang berfokus pada value atau bisa dikenal sebagai Value Oriented. Keduanya punya perbedaan yang signifikan. Apakah bisa menghasilkan penjualan? Jawabannya, aku sih yes, bisa! 

Product Oriented artinya yang kamu lakukan hanyalah posting produk, memberikan promo lalu jual, udah deh beres.

Cara ini bisa sangat menghasilkan jika brand kamu sudah punya nama besar di instagram atau marketplace.

Tapi, kalau brand kamu masih baru merintis atau bahkan belum punya nama. Sebaiknya say no to this choice…

Value Oriented artinya yang kamu lakukan adalah memberikan sebuah value berupa konten, sharing, interaksi dan untuk jualannya kamu bisa memposting produk, memberikan penawaran lalu jual.

Berbedakan dengan cara Product Oriented. Kalau sejuah ini cara ini lebih efektif daripada berfokus hanya ke produk, produk dan produk.

Konsumen nanti bakalan maburr kalo kamu ngebosenin gitu. Kaya si dia yang tiba-tiba ghosting kamu karena kamu terlalu boring.

STRATEGI PERANG

kalau bisnis kamu baru aja mulai please mulai aja dengan cara Value Oriented. Aku kasih tau ya alasannya…

1. Belum Punya Nama, Bisnis yang masih baru biasanya akan kesulitan mencari pasar

2. Belum Kenalan, Orang tidak suka dijuali jika belum kenal

3. Konten, dimana-mana orang mencari sebuah value atau sesuatu yang bermanfaat untuk mereka

4. Kamu belum punya testimoni dari orang-orang

5. Kamu tidak bisa mengandalkan harga jika tidak ada value

6. Trust! Orang lebih percaya kepada orang yang memang ahli di bidangnya/

STUDI KASUS

1. Online Shop Milik Marpuah

Penjual Skincare – Paham Skincare – Sering Sharing di Media Sosial Tentang Perawatan Kulit – Bisa Jadi Tempat Konsultasi – Menjual Produk Skincare = 150k/Pcs

2. Online Shop Milik Susanti

Penjual Skincare – Gak Paham Soal Skincare – Jarang Share atau Bahkan Gak Pernah – Tiap Hari Jualan Terus – Menjual Produk Skincare = 80k/Pcs

Kamu lebih percaya yang mana? Silahkan dipilih. 

Jadi, kamu gak perlu tiba-tiba harus ganti haluan bisnis. Cukup dengan paham strategi perang ini, niat, tekad dan do’a yang kuat insyallah bisnis kamu aman selama perang berlangsung.

 

Afif Yasinta - Femalepreneur Indonesia

 

 

 

BY: Li Ling

Related News

Post Comments.

Login to Post a Comment

No comments yet, Be the first to comment.