Pasar Gen Z dan Millenial Butuh Perhatian Khusus, Ini 3,5 Alasannya!

Sensus Penduduk mencatat total populasi Indonesia pada 2020 mencapai 270,2 juta jiwa yang didominasi oleh Gen Z (1997-2012) sebanyak 27,94% dan Milenial (1981-1996) sebanyak 25,87%.

Lantas, apa korelasinya bagi para pengusaha?

Konsumen merupakan target pasar kamu, karena merekalah yang akan membeli produk atau menggunakan jasamu. Tidak heran jika kemudian “kenali pasarmu” menjadi sila pertama bagi siapa pun yang ingin memulai usaha. Perilaku konsumen yang dinamis menuntut para pengusaha untuk terus adaptif.

Beberapa faktor yang memengaruhi perilaku konsumen adalah teman, keluarga, lingkungan ekonomi, status sosial, status pernikahan, dan tipe kepribadian. Meski demikian, yang paling mempengaruhi perilaku konsumen saat ini adalah usia.

Oleh karena itu, jika Gen Z dan Milenial yang mendominasi masyarakat ekonomi di Indonesia, maka kita harus bisa lebih mengenali keduanya demi memperoleh kesempatan pasar yang ciamik.

Berikut beberapa catatan penting bagi para pengusaha, di antaranya:

1. Menjadi komunikatif di internet

Gen Z memiliki banyak kesamaan dengan pendahulunya, para Milenial. Mereka sama-sama berada di masa kebangkitan teknologi internet, meski Gen Z cenderung lebih unggul dalam mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti bersosial media melalui ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset.

Terbiasa hidup berdampingan dengan teknologi canggih, secara tidak langsung hal ini ikut memengaruhi kepribadian konsumtif mereka dalam berbelanja. Perilaku kelompok ini cenderung mandiri, tidak sabar, dan kurang peduli pada proses produksi di balik layar sehingga dunia bisnis harus cepat mengantisipasi hal tersebut.

Selain itu, mereka juga mengalami peningkatan cara bersosialisasi dan berkomunikasi melalui media digital. Generasi ini merupakan pengguna terbesar internet untuk berbelanja semua kebutuhannya. Survei yang dilakukan Visa Worldwide Indonesia menyebutkan bahwa 76% pengguna internet pernah melakukan pembelanjaan online dan 48% pembeli online adalah konsumen kelompok umur 18-30 tahun.

Dengan demikian, penting bagi para pelaku usaha untuk menempatkan diri sebaik mungkin di internet jika ingin menarik perhatian konsumen. Hal ini dapat dilakukan dengan menjadi lebih komunikatif, entah dalam hal copywriting pemasaran hingga fasilitas-fasilitas penunjang yang membuat konsumen lebih mudah dalam memahami dan mengakses produk yang ditawarkan.

2. Preferensi konsumen

Pasar merupakan suatu institusi yang dicirikan dengan adanya kegiatan interaksi antara pembeli dan penjual dengan kesepakatan jumlah barang dan harganya. Jenis pasar yang sering ditemui oleh masyarakat Milenial dapat dikategorikan menjadi 2 jenis berdasarkan bentuk transaksinya, yaitu pasar tradsional dan pasar modern.

Hadirnya e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, Bukalapak, dan OLX di tengah masyarakat menambah daftar preferensi baru bagi masyarakat, khususnya konsumen Milenial dalam memilih tempat berbelanja. Pilihan-pilihan setiap orang terhadap sebuah produk/jasa inilah yang disebut dengan preferensi.

Terdapat beberapa variabel faktor yang mempengaruhi preferensi konsumen dalam memilih tempat berbelanja, yaitu product (barang/jasa yang ditawarkan), price (harga), place (tempat berbelanja), dan promotion (promosi/marketing). Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor atribut distribusi/tempat menjadi preferensi tertinggi di antara yang lainnya.

Masyarakat atau konsumen biasa memperhatikan faktor-faktor apa saja yang menjadi keunggulan bagi masing-masing tempat belanja sehingga penting bagi para pelaku usaha untuk menyediakan “tempat” yang nyaman dan praktis. Hal ini berlaku baik bagi toko offline maupun online.

3. Hati-hati dengan pesaing jauh

Sebagai generasi yang sangat adaptif terhadap teknologi internet, generasi ini juga sangat berhati-hati dan selektif dalam membelanjakan uangnya. Di negara berkembang muncul kecenderungan adanya persepsi atas brand dan image terhadap produk atau jasa dalam negeri cenderung lebih rendah dibandingkan produk luar negeri.

Di era globalisasi, kegiatan ekonomi dan perdagangan antar negara yang tidak terikat dalam suatu batasan atau biasa dikenal “perdagangan bebas” menjadi hal yang tidak diragukan lagi. Sebagaimana koin dengan dua permukaan yang berlawanan, perdagangan bebas juga memiliki dampak positif dan juga negatif bagi perekonomian.

Dampak positifnya karena dengan terbukanya pasar internasional, ikut membuka kesempatan bekerja dan meningkatkan devisa negara. Namun, fenomena ini juga berpotensi menyurutkan rasa cinta terhadap produk dalam negeri yang memengaruhi gaya hidup masyarakat Indonesia.

Tentu hal ini menjadi poin penting yang harus diperhatikan oleh pelaku usaha lokal. Secara umum, beberapa faktor yang memengaruhi preferensi konsumen dalam memilih produk luar negeri adalah kualitasnya yang dianggap lebih baik, kemasan menarik, inovasi berkelanjutan, dan lokasinya yang memadai. Berangkat dari keempat aspek tersebut, para pelaku usaha lokal harus bisa memastikan produknya tidak kalah saing dengan produk luar.

3,5. Jangan pernah berhenti belajar

Kamu mendapati tips ini sebagai setengah poin karena sifatnya yang opsional. Take it or leave it. Kamu boleh bersikeras bertahan dengan gayamu, tetapi jangan salahkan konsumen yang dinamis jika kemudian perlahan berpaling. Cukuplah kisah kegagalan Kodak, Sony Ericsson, BlackBerry, Nokia, Yahoo, hingga Panasonic dalam bersaing dan berinovasi mengikuti perkembangan zaman untuk diambil pelajaran.

Never stop learning, selamat berprogress!

 

Hana Sausan - Femalepreneur Indonesia

BY: Li Ling

Related News

Post Comments.

Login to Post a Comment

No comments yet, Be the first to comment.